SERAMBI : Surau Edisi Maret – April 2010

Baru – baru ini salah satu Ormas Islam Terbesar di Indonesia mengeluarkan fatwa haram merokok yang tertuang dalam surat fatwa haram Nomor 6//SM/MTT/III/2010 pada Senin malam 8 Maret 2010. Dengan dikeluarkannya fatwa haram merokok ini,  berarti fatwa tahun 2005 telah berakhir. Sebelumnya pada tahun 2005 Majelis Tarjih dan Tajdid (MTT) Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengeluarkan fatwa bahwa merokok hukumnya mubah, yang berarti boleh dikerjakan, tapi kalau ditinggalkan lebih baik. Namun, fatwa itu kemudian direvisi karena dampak negatif merokok mulai dirasakan oleh semua lapisan masyarakat, tidak hanya oleh perokok. Butuhnya waktu untuk merubah fatwa ini, disebutkan dalam situs Muhammadiyah Online, karena pihak MTT Pimpinan Pusat Muhammadiyah memerlukan lebih banyak data dari para ahli untuk memperteguh penetapan fatwa ini.
Pro dan kontra timbul dari masyarakat dalam menanggapi fatwa haram ini. Pihak pro menyambut baik fatwa haram ini sebagaimana disebutkan dalam detik.com antaralain Seto Mulyadi, Ketua Komnas Perlindungan Anak, Dr. Alex Papilaya, Direktur Perusahaan Tobacco Control Support Center (TCSC), artis Fuad Baraja, yang  juga aktivis Lembaga Menanggulangi Masalah Rokok, LSM anti rokok serta praktisi medis yang mengerti akan bahaya rokok tidak hanya pada kesehatan akan tetapi juga pada ranah sosial. Bahkan Pemprov DKI sebagaimana disebutkan dalam detik.com mendukung fatwa haram ini karena sejalan dengan program Pemprov DKI memerangi rokok di ibu kota.
Sebagaimana yang terjadi, kecaman dari berbagai pihak menentang fatwa ini masih mengucur deras dari penjuru pelosok negeri. Mereka antaralain para pengusaha rokok, pemerintah, petani tembakau dan tentunya penikmat rokok. Sebagaimana yang kita ketahui penerimaan negara  dari cukai dan pajak rokok pada 2006 mencapai Rp52 triliun. Jumlah tersebut tidak sedikit dalam membantu pemerintah menjalankan negara. Dalam berbagai forum diskusi di dunia maya, mereka berkelakar akan berbagai dampak ekonomis dan sosial apabila rokok benar – benar di haramkan di Indonesia.
Muhammadiyah sendiri  melalui perwakilannya Prof. Dr. Yunahar Ilyas , Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang membidangi Tarjih, sebagaimana disebutkan dalam detik.com mengutarakan bahwa petani tembakau tidak perlu khawatir akan perubahan pola ini, karena petani bisa mengalihkan pada komoditi tanaman lain yang lebih bermanfaat. akan tetapi hal tersebut ditentang para petani tembakau, karena hal tersebut tidak semudah membalik telapak tangan.
Ketua Umum PP Muhammadiyah  Din Syamsudin dalam okezone.com mengatakan, fatwa ini belum merupakan keputusan final dan selanjutnya fatwa ini akan dibawa ke dalam Mukatamar Muhammadiyah Juli mendatang.

Sempat tersiar kabar angin bahwa Muhammadiyah menerima kucuran dana sebesar Rp. 3,6 milyar dari Bloomberg Initiative yang mendukung gerakan anti rokok di Indonesia dalam rentang waktu 2007-2010. Menanggapi hal tersebut, Yunahar Ilyas menegaskan, bahwa fatwa haram merokok tidak ada sangkut pautnya dengan grant dari Bloomberg Initiative. Bahkan beliau tidak tahu mengenai pengucuran dana itu. Sebagai Ketua PP. Muhammadiyah yang seharusnya mendapatkan laporan atas kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh seluruh elemen di Muhammadiyah tentu menimbulkan kecurigaan. Apalagi sebuah kerjasama dan disertai pemberian dana sekian miliar seharusnya memiliki MoU (hitam di atas putih) yang diketahui oleh pimpinan pucuk institusi.
Untuk mengawal fatwa haramnya rokok, MTT-pun mengeluarkan beberapa  rekomendasi internal. Antara lain: Bagi rumah sakit, sekolah, universitas dan kantor administrasi Muhammadiyah hendaknya menciptakan kawasan bebas asap rokok. Kepada seluruh fungsionaris pengurus Persyarikatan Muhammadiyah dan semua jajaran hendaknya menjadi teladan dalam upaya menciptakan lingkungan sehat dan bebas asap rokok.
Apapun itu kontroversi yang tengah terjadi, sebaiknya kita sebagai mahasiswa muslim yang berintelektual tetap menanggapinya dengan bijak dan berkepala dingin, jangan sampai masalah ini memecah persatuan dan kesatuan umat muslim di Indonesia.[jun]

Tanggapan Mahasiswa :

Arya, KH 2007, Pro Fatwa
Meskipun ada kepercayaan di kalangan ihwan bahwa merokok itu tanda kejantanan, akan tetapi justru hanya keburukan yang diperoleh dari rokok bahkan tidak ada manfaatnya sama sekali.

Bashori, KH 2006, Pro Fatwa
Banyak kerugian dari aktifitas merokok mulai dari segi kesehatan, sosial hingga ekonomi. Tentang program CSR seperti Beasiswa dan Olahraga, sebenarnya itu hanyalah strategi marketing untuk memperoleh pasar. Nominal CSR juga tidak seberapa besar dibandingkan dengan keuntungan perusahaan rokok yang sebagian besar lari ke luar negeri karena saham terbesar perusahaan – perusaahaan besar rokok di Indonesia telah dikuasai pihak asing.

Pandi, KH 2007, Kontra Fatwa
Yang berhak memvonis haram adalah Allah SWT.

Munir, KH 2007, Kontra Fatwa
Dalam Al – Qur’an dan Hadist tidak disebutkan bahwa merokok hukumnya haram, meskipun dalam jangka panjang merugikan akan tetapi menurut saya masih makruh bila dibandingkan dengan minuman keras yang benar – benar merugikan banyak orang.

(nama disamarkan), Kontra Fatwa
Memang merokok dalam jangka panjang berbahaya bagi kesehata, kadang merokok justru membantu penggunanya seperti menghilangkan stress dan membangkitkan pikiran inspiratif selain itu saya pernah mendengar kabar  adanya muatan politis untuk mematikan usaha rokok di Indonesia agar rokok impor menguasai pasar tanah air.