Latest Entries »

Saudara muslim, kali ini KMMV mengangkat sosok seorang mahasiswi muslimah yang sarat akan prestasi baik akademis maupun nonakademis. Beliau Artina Prastiwi, atau yang biasa dipanggil  Tiwi, akhwat kelahiran Gunungkidul, 26 Januari 1989. Putri dari pasangan Sugita dan Wartinah ini termasuk mahasiswi yang menduduki jajaran cumlaude di angkatan 2007 dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,77. Ukhti Tiwi tidak hanya berprestasi dalam bidang akademik akan tetapi juga dalam ranah nonakademik.

Dalam bidang akademis, selain tercatat sebagai mahasiswa cumlaude beliau juga tengah menjabat sebagai asisten laboratorium Kesmavet, mengikuti proyek penelitian dosen dan juga sekarang juga menjabat sebagai asisten Profesor Kurniasih.
Berbagai gelar kejuaraan telah beliau raih, antara lain finalis PIMNAS XIII, finalis PKM 2008 (meloloskan dua judul karya ilmiah dan penelitian), finalis PKM 2010 (meloloskan tiga judul karya ilmiah dan penelitian), finalis PMW Hibah UGM, Juara II Debat Kemuslimahan tingkat Universitas, Juara I lomba proposal penelitian TRAP 2010, juara III Karya Teknologi Mahasiswa tingkat Universitas dan masih banyak lagi gelar kejuaraan yang beliau sabet.
Ukhti Tiwi tidak hanya menonjol dalam sisi akademis, akan tetapi juga aktif dalam berorganisasi. Pengalaman organisasi beliau antara lain : staf departemen internal BEM KMEJA 2008 – 2009, Divisi Fund Rising BEM KMEJA 2009 – 2010, anggota divisi penelitian Gama Cendekia, Bendahara dan Mandiri Finansial KMMV 2008 – 2009, anggota HSTP divisi Ruminan, Anggota Fosda.
Aktifitas beliau di luar kampus juga tidak kalah sibuknya, antara lain menjadi tentor di dua Bimbel di Yogyakarta, Privat mandiri, MC keliling, Nasyidah E-Voice, Trainer in-door juga pernah menjadi penyiar radio swasta islami di Yogyakarta.
Akhwat penghobi melukis ini memiliki motto : “Cintailah belajar dan mengajar”.
Subhanallah, betapa Allah memberi bakat luarbiasa bagi saudara kita ini, semoga kisah saudara kita ini mampu menjadi pemacu semangat kita untuk menjadi mahasiswa yang berprestasi baik secara akademik maupun nonakademik, aktif berorganisasi dan tetap menjunjung tinggi syariat Islamiyah. [jun]

Artina Prastiwi

Artina Prastiwi

Shalat Tarawih adalah shalat sunnat yang dilakukan khusus hanya pada bulan ramadhan. Tarawih dalam bahasa Arab adalah bentuk jama’ dari تَرْوِيْحَةٌ yang diartikan sebagai “waktu sesaat untuk istirahat”. Waktu pelaksanaan shalat sunnat ini adalah selepas isya’, biasanya dilakukan secara berjama’ah di masjid.
Terdapat beberapa praktek tentang jumlah raka’at dan jumlah salam pada shalat tarawih, pada masa Rasulullah SAW jumlah raka’atnya adalah 8 raka’at dengan dilanjutkan 3 raka’at witir. Dan pada zaman khalifah Umar menjadi 20 raka’at dilanjutkan dengan 3 raka’at witir. Perbedaan pendapat menyikapi boleh tidaknya jumlah raka’at yang mencapai bilangan 20 itu adalah tema klasik yang bahkan bertahan hingga saat ini. Sedangkan mengenai jumlah salam praktek umum adalah salam tiap dua raka’at namun ada juga yang salam tiap empat raka’at. Sehingga bila akan menunaikan tarawih dalam 8 raka’at maka formasinya adalah salam tiap dua raka’at dikerjakan empat kali, atau salam tiap empat raka’at dikerjakan dua kali dan ditutup dengan witir tiga raka’at.
Niat shalat ini, sebagaimana juga shalat-shalat yang lain cukup diucapkan didalam hati, yang penting adalah niat semata karena Allah Ta’ala dengan hati yang ikhlas dan mengharapkan Ridho-Nya, apabila ingin dilafalkan jangan terlalu keras sehingga mengganggu Muslim lainnya, memang ada beberapa pendapat tentang niat ini gunakanlah dengan hikmah bijaksana.
Secara lengkap, niat shalat tarawih 2 rakaat adalah: ” Ushalli sunnatat taraawiihi rak’ataini (ma’muman/imaaman) lillahi ta’aalaa”
Artinya: ” Aku niat Shalat Tarawih dua rakaat ( menjadi makmum/imam) karena Allah Ta’ala”
Beberapa Hadits Terkait
    “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pada suatu malam shalat di masjid lalu para sahabat mengikuti shalat Beliau, kemudian pada malam berikutnya (malam kedua) Beliau shalat maka manusia semakin banyak (yang mengikuti shalat Nabi n), kemudian mereka berkumpul pada malam ketiga atau malam keempat. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tidak keluar pada mereka, lalu ketika pagi harinya Beliau bersabda: ‘Sungguh aku telah melihat apa yang telah kalian lakukan, dan tidaklah ada yang mencegahku keluar kepada kalian kecuali sesungguhnya aku khawatir akan diwajibkan pada kalian,’ dan (peristiwa) itu terjadi di bulan Ramadhan.” (Muttafaqun ‘alaih)
    “Artinya : Dari Jabir bin Abdullah radyillahu ‘anhum, ia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah shalat bersama kami di bulan Ramadhan (sebanyak) delapan raka’at dan witir (satu raka’at). Maka pada hari berikutnya kami berkumpul di masjid dan mengharap beliau keluar (untuk shalat), tetapi tidak keluar hingga masuk waktu pagi, kemudian kami masuk kepadanya, lalu kami berkata : Ya Rasulullah ! Tadi malam kami telah berkumpul di masjid dan kami harapkan engkau mau shalat bersama kami, maka sabdanya “Sesungguhnya aku khawatir (shalat itu) akan diwajibkan atas kamu sekalian”.(Hadits Riwayat Thabrani dan Ibnu Nashr)
    “Aku perhatikan shalat malam Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, yaitu (Ia) shalat dua raka’at yang ringan, kemudian ia shalat dua raka’at yang panjang sekali, kemudian shalat dua raka’at, dan dua raka’at ini tidak sepanjang dua raka’at sebelumnya, kemudian shalat dua raka’at (tidak sepanjang dua raka’at sebelumnya), kemudian shalat dua raka’at (tidak sepanjang dua raka’at sebelumnya), kemudian shalat dua raka’at (tidak sepanjang dua raka’at sebelumnya), kemudian witir satu raka’at, yang demikian adalah 13 raka’at”.Diriwayatkan oleh Malik, Muslim, Abu Awanah, Abu Dawud dan Ibnu Nashr.
    “Artinya : Dari Abi Salamah bin Abdurrahman bahwasanya ia bertanya kepada ‘Aisyah radyillahu anha tentang shalat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam di bulan Ramadhan. Maka ia menjawab ; Tidak pernah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam kerjakan (tathawwu’) di bulan Ramadhan dan tidak pula di lainnya lebih dari sebelas raka’at 1) (yaitu) ia shalat empat (raka’at) jangan engkau tanya tentang bagus dan panjangnya, kemudian ia shalat empat (raka’at) 2) jangan engkau tanya panjang dan bagusnya kemudian ia shalat tiga raka’at”.[Hadits Shahih Riwayat Bukhari dan Muslim]
[mel]

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”(Al-Baqarah:183)

Penjelasan kata dari Ash-Shiyam menurut Abu Bakar Jabir Al-Jazairi dalam Tafsir Al-Aisar memiliki arti bahwa dari segi bahasa ialah al-imsak (menahan), dan secara mendalam ialah mencegah dari makan dan minum, serta larangan untuk menyetubuhi wanita dari terbitnya fajar hingga terbenamnbya matahari, dengan niat menjalankan perintah Allah. Shaum ramadhan ini diturunkan oleh Allah SWT pada tahun kedua hijriyah, dan Dia memanggil muslim yang ada pada waktu itu dengan atas nama iman: “Hai orang yang beriman!”, kemudian diwajibkan untuk berpuasa. “agar kamu bertakwa” adalah firman Allah agar kita bisa melatih ketakwaan kita, yang intinya adalah melaksanakan perintahNya dan menjauhi laranganNya dengan selalu merasa diawasi oleh Allah Azza Wa Jalla. Puasa ramadhan mungkin dapat diibaratkan dengan ajang latihan khusus yang ketat kepada atlet olahragawan sebelum mereka menghadapi lomba, dimana yang dilatih tidak hanya fisik yang bugar dan kuat saja tetapi juga mental yang ‘tahan banting’. Perasaan merasa diawasi oleh Allah atau Muraqabah merupakan inti dari ketakwaan dan tanda keimanan seorang muslim, dalam QS. Al-Fajr: 14,

“Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi.”

Dan Allah memberi balasan yang begitu indah kepada orang-orang yang bertakwa kepada Allah, seperti yang difirmankan oleh Allah dalam Al-Qur’an surat At-Thalaq: 2-3,

“…Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.”

Banyak sekali keutamaan-keutamaan dibulan puasa yang tidak dimiliki oleh keutamaan di bulan-bulan lainnya. Sehingga apabila keimanan merasuki seluruh permukaan qolbu, maka apabila disebut Bulan Ramadhan yang terbayang adalah sebuah kebun yang rimbun dan hijau yang ditemukan oleh seorang muslim yang tengah berjalan di padang sahara kehidupan yang panas membara. Berikut adalah keutamaan bulan ramadhan yang diambil dari hadits Shahih Muttafaq Alaih,

Dari Abu Hurairah ra. Berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Jika Ramadhan telah masuk maka dibukalah pintu-pintu langit, ditutuplah pintu-pintu jahanam, dan dirantailah para setan.’ Dalam riwayat lain, ‘Dibukalah pintu-pintu surga’.”

Dari Abu Hurairah ra., “Rasulullah SAW bersabda, ‘Barangsiapa yang berpuasa di bulan ramadhan karena keimanan dan mengharapkan pahala (dari Allah) maka akan diampuni dosanya yang telah lalu’.”

Di bulan ramadhan ini orang-orang yang berpuasa melakukan shalat malam selama sebulan penuh, dan ini merupakan bekal yang tak terhingga. Mereka berlomba-lomba untuk mencari keridloan Allah.

Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang mendirikan shalat pada malam lailatulqadar karena keimanan dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu.”

Dari Abu Ayyub Al-Anshari ra., ia mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa berpuasa ramadhan kemudian melanjutkannya dengan enam hari di bulan Syawal, maka seakkan-akan ia berpuasa setahun penuh.”

Motivasi terbesar untuk melakukan puasa adalah begitu istimewanya amalan puasa ini dihadapan Allah, dan ditambah dengan keagungan bulan puasa ini dibanding dengan bulan-bulan lainnya.

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Semua amal anak Adam akan dilipatgandakan, kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipat yang semisal dengannya, sampai 700 kali lipat. Allah Ta’ala berfirman,’Kecuali puasa, karena puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya. Dia (anak Adam) meninggalkan syahwatnya dan makanannya demi Aku. Bagi orang yang puasa ada dua kegembiraan; gembira ketika berbuka dan gembira ketika bertemu Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang puasa di sisi Allah adalah lebih wangi daripada bau kesturi’.”

Dari Sahl bi Sa’d ra., dari Rasulullah SAW beliau bersabda, “Sesungguhnya dalam surga ada delapan pintu, salah satu pintu tersebut bernama Rayyan, tidak akan masuk dari pintu tersebut kecuali orang-orang yang puasa.”

Semua bekal dan nilai tarbawi yang terdapat pada puasa dan bulan Ramadhan itu mudah diraih oleh orang yang benar-benar berniat puasa sesuai dengan yang diinginkan oleh Allah SWT. dan seperti yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Akan tetapi kondisi yang ada sekarang-umat muslim- seperti yang dituliskan oleh Syaikh Mushthafa Masyhur dalam kitab Fiqh Dakwah adalah sangat memprihatinkan, dimana bulan puasa berubah menjadi bulan penuh kerakusan karena semakin banyak menambah porsi makan, kemudian bulan ibadah, qiyam, dan qur’an berubah menjadi bulan bersenang-senang, begadang, dan merusak. Sungguh semua ini mengaburkan hakikat dari ramadhan, dan Allah dan Rasul-Nya membenci hal ini. Oleh karena itu, marilah kita memohon kepada Allah agar kita semua mendapatkan manfaat dan nilai-nilai kebaikan ramadhan yang begitu besar, dengan semangat beribadah, kesabaran menghadapi ujian, dan keteguhan iman yang hanya mengharap pahala-Nya semata. [Chan]

Ghibah secara definisi yakni seorang muslim membicarakan saudaranya sesama muslim tanpa sepengetahuannya tentang hal-hal keburukannya dan yang tidak disukainya, baik dengan tulisan maupun lisan, terang-terangan maupun sindiran. Ghibah hukumnya haram dalam syariat Islam berdasarkan ijma’ kaum muslimin karena dalil-dalil yang jelas dan tegas baik dalam kitab maupun sunnah.
Infotainment merupakan paduan dua kata, yaitu informasi dan entertainment . Asumsi di balik kata ini adalah apa yang ditawarkan ke publik tidak sekadar informasi, tapi juga bisa menghibur. Bahkan aspek hiburan sering dikedepankan daripada tujuan dari informasi itu sendiri. Apa yang dikedepankan dari infotainment adalah sisi sensasional sebuah tayangan bukan kedalaman informasi, edukasi, dan kepentingan publik. Dalam prakteknya, infotainment menjadi salah satu program televisi yang banyak mengaplikasikan ghibah dalam tayangannya.
Menanggapi penyalahgunaan infotainment sebagai ajang praktek ghibah terutama dalam hal penyebaran keburukan artis (gosip ataupun fitnah) , MUI mengeluarkan fatwa haram mengenai praktek ghibah dalam tayangan infotainment sebagai hasil dari Musyawarah Nasional (Munas) MUI VIII. Fatwa tersebut disahkan dalam pleno MUI dalam Munas di Jakarta, Selasa 27 Juli 2010, oleh Ketua Komisi Fatwa MUI, KH Ma’ruf Amin. Menurut ketentuan umum fatwa mengenai infotainment, menceritakan aib, kejelekan gosip, dan hal lain terkait pribadi kepada orang lain dan atau khalayak, hukumnya haram.
Dilansir dari situs MUI,  Sekretaris Komisi Fatwa MUI, Asrorun Niam Sholeh menjelaskan bahwa MUI sendiri menegaskan, tidak melarang infotainment-nya, tetapi soal kontennya yang berisi gosip dan membuka aib orang. Oleh karena itu, dalam pengumuman fatwa, kata ‘infotainment’ tidak dilekatkan dengan pengumuman fatwa haram melainkan kata ‘menceritakan aib’ dan seterusnya.
Menurut Ni’am, ada juga hal-hal dari kehidupan pribadi seseorang yang boleh diungkap ke publik. Syaratnya ada kepentingan syar’i dan membawa kebaikan untuk orang lain.
Ni’am menjelaskan, hanya konten infotainment yang memiliki dampak negatif dan berada di ruang publik saja yang dilarang, termasuk unsur yang terlibat dalam mengekploitasi berita itu sendiri. Setidaknya ada lima elemen yang dilarang atau diharamkan membuka atau membuat berita aib, gosip dan lain-lainnya, pertama sumber berita, yaitu orang yang menceritakan aib itu
sendiri. Kedua, yang masuk larangan membuat berita aib dan gosip ini adalah wartawan atau insan infotaimentnya. Ketiga, media penyiaranya. Keempat, masyarakat sebagai konsumen, penonton, pembaca atau sebagai penggunanya. Kelima, pihak yang mengambil keuntungan dari berita gosip seperti Production House (PH), stasiun televisi, penerbit dan lain-lainnya.

“Dan janganlah sebagian kalian meng-ghibbah sebagian yang lainnya, sukakah kalian jika nanti (di hari Kiamat) memakan daging bangkai saudara kalian tersebut, pasti (saat itu kelak) kalian akan merasa sangat jijik…” (QS 49/12)                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                 [Mel]

Teman-teman yang budiman, marilah kita bersama belajar bagai mana cara beretika dalam bergaul seorang muslim agar kita menjadi orang-orang yang ramah.
Bermuka manis dan senyumlah bila anda bertemu orang lain adalah sangat penting, menandakan orang tersebut adalah orang yang rendah hati tidak sombong, siapun menyukai orang yang ramah dan rendah hati.

1. Berbicaralah kepada mereka sesuai dengan kemampuan akal mereka. Apabila mereka lebih muda atau masih anak-anak, pembicaraan harus sesuai dengan tingkat kecerdasaannya.

2. Berbaik sangkalah kepada orang lain dan jangan memata-matai mereka.

3. Hormati perasaan orang lain, tidak mencoba menghina atau menilai mereka cacat. Jaga dan perhatikanlah kondisi orang, kenalilah karakter dan akhlaq mereka, lalu pergaulilah mereka, masing-masing menurut apa yang sepantasnya. Mendudukkan orang lain pada kedudukannya dan masing-masing dari mereka diberi hak dan dihargai. Perhatikanlah mereka, kenalilah keadaan dan kondisi mereka, dan tanyakanlah keadaan mereka.

4. Jangan lupa selalu menanyakan keadaan mereka apa bila seminggu tidak bersua, sambil berjabatan tangan, karena itu anjuran agama kita. Orang yang diberi jabatan tangan pun harus merespon, jangan enggan untuk berjabat tangan atau pun mau berjabat jangan dengar terpaksa dan malah bertanya “ada apa ini”, atau bertanya “kenapa kamu?” Atau pertanyaan-pertanyaan yang seolah-olah tercengang atau merasa aneh dengan nilai kesopan santunan seseorang, karena tindakan seperti itu menimbulkan rasa malu dan tersinggung bagi sipenanya kabar, dan mengakibatkan menurunnya niali-nilai keraham tamahan dan kesopana santunan, seharusnya merespon sambil menjawab baik dan sakit sesuai keadaan kita, dan menanyakan juga kabarnya.

5. Bersikap tawadhu’lah kepada orang lain dan jangan merasa lebih tinggi atau takabbur dan bersikap angkuh terhadap mereka atau sombong. Dengarkanlah pembicaraan mereka dan hindarilah perdebatan dan bantah-membantah dengan mereka.

6. Dalam pembicaraan jangan memotong, biarkan dia bicara dan dengarkan dia sambil melihat mulutnya, jangan melihat kearah yang lain, seperti kearah HP, kalau perlu HP di matikan dulu, apa bila ada pesan yang penting yang masuk ke HP dan perlu dibalas katakanlah kata permisi sebentar.

7. Jika sudah akrab, boleh bercanda, hendaknya percandaan tidak mengandung nama Allah, ayat-ayat-Nya, Sunnah rasul-Nya atau syi`ar-syi`ar Islam

Bercanda tidak boleh dilakukan terhadap orang yang lebih tua darimu, atau terhadap orang yang tidak bisa bercanda atau tidak dapat menerimanya, atau terhadap perempuan yang bukan mahrammu. Hendaknya anda tidak memperbanyak canda hingga menjadi tabiatmu, dan jatuhlah wibawamu dan akibatnya kamu mudah dipermainkan oleh orang lain dan di perolok-olok orang

Hendaknya pembicaran selalu di dalam kebaikan. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya: “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisik-bisikan mereka, kecuali bisik-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah atau berbuat ma`ruf, atau mengadakan perdamaian diantara manusia”. (An-Nisa: 114).
(Rtn)

Pemuda Islam terutama PII (Pelajar Islam Indonesia) dan HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) berperan sangat besar dalam Orde Baru. Biasanya apabila ada suatu perubahan sosial baik yang radikal (revolusi) atau evolusi, peran pemuda Islam terutama mahasiswa Islam cukup menonjol.
Di Indonesia memang peran pemuda Islam selalu menonjol, misalnya Jong Islamieten Bond (JIB) dalam pergerakan nasional yang mana cabang-cabangnya tersebar di seluruh Indonesia. Pemuda Masyumi pada masa Demokrasi Liberal juga sangat berperan. Untuk periode 1960-an sampai 1970-an yang menonjol adalah PII, HMI, PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, organisasi di bawah naungan NU). Akan tetapi dalam periode 1965-1985 peranan pemuda Islam agak tersamarkan karena semua organisasi pemuda Islam, para anggotanya melepas “jaket” dan melebur dalam organisasi yang bersifat nasionalis.
Pada tanggal 20 Maret 1978 terjadi Demonstrasi menentang P4 dan aliran kepercayaan masuk GBHN oleh Gerakan Pemuda Islam (GPI) yang dimotori Abdul Qadir Djailani. Demikian pula delegasi PII, HMI, GP Anshor, IMM, IPNU, dan PMII intensif berdialog di gedung MPR-RI dengan para anggota MPR sejak tahun 1977 sampai tahun 1978 menentang masuknya aliran kepercayaan dalm GBHN 1978. Last but not least, HMI, IMM, PMII, dan pendatang baru KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) sangatlah berperan dalam aksi-aksi reformasi menumbangkan Soeharto. Ternyata dalam rentang waktu yang panjang ini pemuda Islam sangat berperan dalam menentukan jalannya negeri ini.
Sarekat Islam dan Nahdatul Ulama merupakan organisasi pergerakan Islam yang memiliki gagasan dan peranan ekonomi. Namun demikian, dapat disimpulkan bahwa pada masa ini upaya membangun ekonomi umat belum mendapat porsi yang signifikan. Kebangkitan Islam pada masa pergerakan nasional telah melahirkan organisasi-organisasi penting, sekolah-sekolah Islam modern, surat kabar-surat kabar dan majalah, beberapa rumah sakit dan organisasi sosial. Namun, kita tidak menemukan kemunculan suatu organisasi perdagangan atau institusi ekonomi Islam yang bertahan lama dan terus berkembang. Agenda ekonomi umat kelihatannya masih berada di taraf yang reaktif dan segera terlupakan begitu kondisi-kondisi yang mendorong timbulnya reaksi tersebut – seperti ancaman ekonomi Cina ataupun gagasan komunisme.

Lalu, apakah kita hanya akan merenungi kejayaan masa lampau ataukah akan menentukan buat masa depan? Itu semua tergantung kepada kita sendiri! Wallahu A’lam bish Shawab.(Mei)

Sebenarnya apakah yang dimaksud dengan pluralisme? Menurut Fatwa MUI Nomor : 7/MUNAS VII/MUI/II/2005 Pluralisme agama adalah suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relative; oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengkalim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah. Pluralisme juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup dan berdampingan di surga.
Paham ini muncul akibat reaksi dari tumbuhnya klaim kebenaran oleh masing-masing kelompok terhadap pemikirannya sendiri. Persoalan klaim kebenaran inilah yang dianggap sebagai pemicu lahirnya radikalisasi agama, perang dan penindasan atas nama agama. Konflik horisantal antar pemeluk agama hanya akan selesai jika masing-masing agama tidak menganggap bahwa ajaran agama meraka yang paling benar. Itulah tujuan akhir dari gerakan pluralisme ; untuk menghilangkan keyakinan akan klaim kebenaran agama dan paham yang dianut, sedangkan yang lain salah.
Dalam pandangan Islam, sikap menghargai dan toleransi kepada pemeluk agama lain adalah mutlak untuk dijalankan(Pluralitas). Namun bukan berarti beranggapan bahwa semua agama adalah sama (pluralisme), artinya tidak menganggap bahwa Tuhan yang kami sembah adalah Tuhan yang kalian sembah. Pluralitas agama adalah sebuah kenyataan bahwa di negara atau daerah tertentu terdapat berbagai pemeluk agama yang hidup secara berdampingan.
Seandainya ide pluralisme agama ini memang diakui di dalam Islam, berarti, tidak ada satupun orang yang dikatakan kafir. Tetapi al-qur’an dengan sangat tegas menyebut orang ahli kitab yang tidak menerima Islam dengan sebutan kafir. Firman Allah :
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُوْلَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ
Sesungguhnya orang-orang kafir dari golongan ahli kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruknya mahluk (al-Bayyinah:6)
Demikianlah, Islam sama sekali tidak mengakui kebenaran ide pluralisme. Islam hanya mengakui adanya pluralitas agama dan keyakinan. Maknanya Islam hanya mengakui adanya agama dan keyakinan di luar agama islam, serta mengakui adanya identitas agama-agama selain Islam. Islam tidak memaksa pemeluk agama lain untuk masuk Islam. Mereka dibiarkan memeluk keyakinan dan agama mereka. Hanya saja, pengakuan Islam terhadap pluralitas agama tidak boleh dipahami bahwa Islam juga mengakui adanya kebenaran pada agama selain Islam. Solusi Islam terhadap adanya perbedaan agama adalah dengan konsep lakum diinukum wa liya diin, mengakui adanya agama lain tapi tidak dalam pembenaran keyakinan mereka sama dengan Islam dan solusi dalam masalah konflik antar agama adalah dengan jalan dialog bersama membuat kesepakatan bersama untuk kemaslahatan dunia seperti jaman Rasululloh di Madinah, bisa hidup berdampingan dengan orang – orang yahudi. (dari berbagai sumber)

SERAMBI : Surau Edisi Maret – April 2010

Baru – baru ini salah satu Ormas Islam Terbesar di Indonesia mengeluarkan fatwa haram merokok yang tertuang dalam surat fatwa haram Nomor 6//SM/MTT/III/2010 pada Senin malam 8 Maret 2010. Dengan dikeluarkannya fatwa haram merokok ini,  berarti fatwa tahun 2005 telah berakhir. Sebelumnya pada tahun 2005 Majelis Tarjih dan Tajdid (MTT) Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengeluarkan fatwa bahwa merokok hukumnya mubah, yang berarti boleh dikerjakan, tapi kalau ditinggalkan lebih baik. Namun, fatwa itu kemudian direvisi karena dampak negatif merokok mulai dirasakan oleh semua lapisan masyarakat, tidak hanya oleh perokok. Butuhnya waktu untuk merubah fatwa ini, disebutkan dalam situs Muhammadiyah Online, karena pihak MTT Pimpinan Pusat Muhammadiyah memerlukan lebih banyak data dari para ahli untuk memperteguh penetapan fatwa ini.
Pro dan kontra timbul dari masyarakat dalam menanggapi fatwa haram ini. Pihak pro menyambut baik fatwa haram ini sebagaimana disebutkan dalam detik.com antaralain Seto Mulyadi, Ketua Komnas Perlindungan Anak, Dr. Alex Papilaya, Direktur Perusahaan Tobacco Control Support Center (TCSC), artis Fuad Baraja, yang  juga aktivis Lembaga Menanggulangi Masalah Rokok, LSM anti rokok serta praktisi medis yang mengerti akan bahaya rokok tidak hanya pada kesehatan akan tetapi juga pada ranah sosial. Bahkan Pemprov DKI sebagaimana disebutkan dalam detik.com mendukung fatwa haram ini karena sejalan dengan program Pemprov DKI memerangi rokok di ibu kota.
Sebagaimana yang terjadi, kecaman dari berbagai pihak menentang fatwa ini masih mengucur deras dari penjuru pelosok negeri. Mereka antaralain para pengusaha rokok, pemerintah, petani tembakau dan tentunya penikmat rokok. Sebagaimana yang kita ketahui penerimaan negara  dari cukai dan pajak rokok pada 2006 mencapai Rp52 triliun. Jumlah tersebut tidak sedikit dalam membantu pemerintah menjalankan negara. Dalam berbagai forum diskusi di dunia maya, mereka berkelakar akan berbagai dampak ekonomis dan sosial apabila rokok benar – benar di haramkan di Indonesia.
Muhammadiyah sendiri  melalui perwakilannya Prof. Dr. Yunahar Ilyas , Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang membidangi Tarjih, sebagaimana disebutkan dalam detik.com mengutarakan bahwa petani tembakau tidak perlu khawatir akan perubahan pola ini, karena petani bisa mengalihkan pada komoditi tanaman lain yang lebih bermanfaat. akan tetapi hal tersebut ditentang para petani tembakau, karena hal tersebut tidak semudah membalik telapak tangan.
Ketua Umum PP Muhammadiyah  Din Syamsudin dalam okezone.com mengatakan, fatwa ini belum merupakan keputusan final dan selanjutnya fatwa ini akan dibawa ke dalam Mukatamar Muhammadiyah Juli mendatang.

Sempat tersiar kabar angin bahwa Muhammadiyah menerima kucuran dana sebesar Rp. 3,6 milyar dari Bloomberg Initiative yang mendukung gerakan anti rokok di Indonesia dalam rentang waktu 2007-2010. Menanggapi hal tersebut, Yunahar Ilyas menegaskan, bahwa fatwa haram merokok tidak ada sangkut pautnya dengan grant dari Bloomberg Initiative. Bahkan beliau tidak tahu mengenai pengucuran dana itu. Sebagai Ketua PP. Muhammadiyah yang seharusnya mendapatkan laporan atas kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh seluruh elemen di Muhammadiyah tentu menimbulkan kecurigaan. Apalagi sebuah kerjasama dan disertai pemberian dana sekian miliar seharusnya memiliki MoU (hitam di atas putih) yang diketahui oleh pimpinan pucuk institusi.
Untuk mengawal fatwa haramnya rokok, MTT-pun mengeluarkan beberapa  rekomendasi internal. Antara lain: Bagi rumah sakit, sekolah, universitas dan kantor administrasi Muhammadiyah hendaknya menciptakan kawasan bebas asap rokok. Kepada seluruh fungsionaris pengurus Persyarikatan Muhammadiyah dan semua jajaran hendaknya menjadi teladan dalam upaya menciptakan lingkungan sehat dan bebas asap rokok.
Apapun itu kontroversi yang tengah terjadi, sebaiknya kita sebagai mahasiswa muslim yang berintelektual tetap menanggapinya dengan bijak dan berkepala dingin, jangan sampai masalah ini memecah persatuan dan kesatuan umat muslim di Indonesia.[jun]

Tanggapan Mahasiswa :

Arya, KH 2007, Pro Fatwa
Meskipun ada kepercayaan di kalangan ihwan bahwa merokok itu tanda kejantanan, akan tetapi justru hanya keburukan yang diperoleh dari rokok bahkan tidak ada manfaatnya sama sekali.

Bashori, KH 2006, Pro Fatwa
Banyak kerugian dari aktifitas merokok mulai dari segi kesehatan, sosial hingga ekonomi. Tentang program CSR seperti Beasiswa dan Olahraga, sebenarnya itu hanyalah strategi marketing untuk memperoleh pasar. Nominal CSR juga tidak seberapa besar dibandingkan dengan keuntungan perusahaan rokok yang sebagian besar lari ke luar negeri karena saham terbesar perusahaan – perusaahaan besar rokok di Indonesia telah dikuasai pihak asing.

Pandi, KH 2007, Kontra Fatwa
Yang berhak memvonis haram adalah Allah SWT.

Munir, KH 2007, Kontra Fatwa
Dalam Al – Qur’an dan Hadist tidak disebutkan bahwa merokok hukumnya haram, meskipun dalam jangka panjang merugikan akan tetapi menurut saya masih makruh bila dibandingkan dengan minuman keras yang benar – benar merugikan banyak orang.

(nama disamarkan), Kontra Fatwa
Memang merokok dalam jangka panjang berbahaya bagi kesehata, kadang merokok justru membantu penggunanya seperti menghilangkan stress dan membangkitkan pikiran inspiratif selain itu saya pernah mendengar kabar  adanya muatan politis untuk mematikan usaha rokok di Indonesia agar rokok impor menguasai pasar tanah air.

Benar kiranya jika Al Qur’an disebut sebagai mukjizat. Bagaimana tidak, ternyata ayat-ayat Al Qur’an yang diturunkan di abad ke 7 masehi di mana ilmu pengetahuan belum berkembang (saat itu orang mengira bumi itu rata dan matahari mengelilingi bumi), sesuai dengan ilmu pengetahuan modern yang baru-baru ini ditemukan oleh manusia.
Sebagai contoh ayat di bawah:
“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” [Al Anbiyaa:30]
Saat itu orang tidak ada yang tahu bahwa langit dan bumi itu awalnya satu. Ternyata ilmu pengetahuan modern seperti teori Big Bang menyatakan bahwa alam semesta (bumi dan langit) itu dulunya satu. Kemudian akhirnya pecah menjadi sekarang ini.
Kemudian ternyata benar segala yang bernyawa, termasuk tumbuhan bersel satu pasti mengandung air dan juga membutuhkan air. Keberadaan air adalah satu indikasi adanya kehidupan di suatu planet. Tanpa air, mustahil ada kehidupan. Inilah satu kebenaran ayat Al Qur’an.
Tatkala merujuk kepada matahari dan bulan di dalam Al Qur’an, ditegaskan bahwa masing-masing bergerak dalam orbit atau garis edar tertentu.
“Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.” (Al Qur’an, 21:33)
Disebutkan pula dalam ayat yang lain bahwa matahari tidaklah diam, tetapi bergerak dalam garis edar tertentu:
“Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (Al Qur’an, 36:3 )
[ind]

Masih terngiang di benak kita, beberapa kasus korupsi dalam tubuh Dirjen Perpajakan yang terkuak baru – baru ini, mulai dari kasus penggelapan pajak oleh Gayus Tambunan hingga kasus keterlibatan seorang karyawan cleaning service kantor perpajakan yang diduga merugikan negara hingga 300 milyar rupiah. Gayus Halomoan P. Tambunan adalah pegawai Direktorat Jendral Pajak golongan III A yang telah merugikan negara hingga 25 milyar rupiah. Kasus – kasus korupsi tersebut tentunya sangat mencengangkan dan mengecewakan masyarakat, mengingat Dirjen Pajak tengah gemparnya berkampanye akan pentingnya kesadaran membayar pajak.
Bermacam reaksi muncul di tengah masyarakat menanggapi praktek korupsi dalam perpajakan. Krisis kepercayaan tentunya menjadi reaksi utama. Salah satu bentuk reaksi frontal yakni dengan munculnya gerakan masyarakat di facebook dengan nama ‘Gerakan 1.000.000 Facebookers Dukung BOIKOT BAYAR PAJAK untuk KEADILAN’. Anggotanya kini mencapai 120.000-an. Ini bisa saja serius bisa juga sebagai kritik sosial oleh rakyat kepada pemerintah yang harus mendapat perhatian serius dan segera mendapat sekala prioritas penyelesaiannya.
Arti kata korupsi sendiri secara harfiah ialah kebusukan, keburukan, kebejatan, ketidakjujuran, dapat disuap, tidak bermoral, penyimpangan dari kesucian, kata-kata atau ucapan yang menghina atau memfitnah. Korupsi dalam Undang-Undang RI No. 31 Tahun 1999 yang diubah dengan Undang-Undang No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, bahwa yang dimaksud dengan korupsi adalah usaha memperkaya diri atau orang lain atau suatu korporasi dengan cara melawan hukum yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.
Dalam Islam, korupsi sendiri merupakan perbuatan tercela seperti tersurat dalam Firman Allah :

وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
Artinya : Janganlah kalian memakan harta diantara kalian dengan jalan yang batil dengan cara mencari pembenarannya kepada hakim-hakim, agar kalian dapat memakan harta orang lain dengan cara dosa sedangkan kalian mengetahuinya. (QS. Al-Baqarah: 188)

Pokok permasalahan dalam ayat di atas adalah larangan memakan harta orang lain secara umum dengan jalan batil, sedangkan jelas harta yang diambil tersebut milik orang lain. Korupsi adalah salah satu bentuk pengambilan harta orang lain yang bersifat khusus. Dalil umum di atas adalah cocok untuk memasukkan korupsi sebagai salah satu bentuk khusus dari pengambilan harta orang lain. Ayat di atas secara tegas menjelaskan larangan untuk mengambil harta orang lain yang bukan menjadi haknya.
Pajak sendiri menurut Undang-undang Nomor 28 Tahun 2007 adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Pajak menjalankan fungsi penerimaan sebagai fungsi utama pajak. Pajak ditarik terutama untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran pemerintah dalam rangka menyediakan barang dan jasa publik. Pajak juga memiliki fungsi mengatur. Dalam fungsi ini, pajak mengarahkan perilaku sekelompok warga negara agar bertindak sesuai yang diinginkan. Pajak juga menjalankan fungsi distribusi kekayaan di mana kelompok yang lebih mampu akan membayar pajak lebih banyak sementara kelompok yang kurang mampu akan mendapatkan manfaat lebih banyak dibandingkan dengan pajak yang dia bayar.
Mengingat sedemikian pentingnya peran pajak untuk menjalankan suatu negara, harusnya kita lebih bijak lagi dalam menanggapi kasus yang tengah marak terjadi dalam tubuh Dirjen Perpajakan. Bagaimanapun juga pajak memegang peranan penting dalam kehidupan suatu negara.(Rez)

Tanggapan Warga FKH :
Drh. Setyo Budhi, MP, Wakil Dekan III FKH UGM
Terus terang saya agak kecewa dengan kasus yang terjadi. Pajak untuk kepentingan bersama, harusnya kita tetap bijak untuk membayar pajak, hanya saja Pemerintah perlu menindak tegas oknum yang sekiranya tidak benar dan memperketat kotrol dalam perpajakan.

Ihsanudin Rosyid, S1 2007
Apabila terdapat penyelewengan, yang diberantas harusnya oknumnya bukan pajaknya, yang harus dibenahi adalah sistemnya karena bagaimanapun juga Pajak sangat penting bagi kelangsungan suatu Negara.

Sigit Aditama, D3 2009
Saya tetap akan melanjutkan membayar pajak, meskipun ada kasus seperti itu karena bagaimanapun juga pajak merupakan salah satu sumber pendapatan negara. Harapan saya agar Dirjen Perpajakan membenahi mental dan meningkatkan kualitas moral.